Pages

Jumat, 10 Agustus 2012

Deklamsi dan Pementasan Drama


A. DEKLAMASI
1.PENGERTIAN
Deklamasi berasal dari bahasa Latin ( declamare )atau (declaim) yang berarti membaca sesuatu hasil sastera yang berbentuk puisi dengan lagu atau gerak tubuh sebagai alat bantu. Gerak yang dimaksudkan adalah gerak alat bantu yang puitis, yang seirama dengan isi bacaan.
Pada umumnya deklamasi berkaitan erat dengan puisi, akan tetapi membaca sebuah cerpen dengan lagu atau gerak tubuh juga bisa dikatakan mendeklamasi.
2.MAKNA KATA DEKLAMASI
Di Indonesia perkataan deklamasi sudah ada sejak tahun 1950. Mendeklamasi puisi sudah dilakukan sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu, baik di Malaysia ataupun di luar negeri. Orang yang melakukan deklamasi itu disebut “Deklamator” untuk lelaki dan “Deklamatris” untuk perempuan.
Deklamasi berbeda dengan menyanyi. Menyanyi adalah suatu kegiatan untuk melagukan suatu not-not do-re-mi ataqu not balok. Sedangkan deklamasi adalah membawakan pantun-pantun, syair, puisi atau sajak dengan menggunakan irama atau sajak yang  baik
3. BAHAN YANG DIDEKLAMASIKAN
Tidak semua pantun, sajak atau puisi dapat dideklamasikan, adkalanya cerpen dan novel juga bisa dideklamasikan karena kita harus memilih mana sajak, puisi, pantun-pantun yang baik dan menarik untuk dideklamasikan.

B. PEMENTASAN DRAMA
1. PENGERTIAN DRAMA
Kata drama berasal dari kata Yunani, draomai yang berarti berbuat, berlaku, bertindak, bereaksi, dan sebagainya. Jadi, kata drama dapat diartikan sebagai perbuatan atau tindakan. Drama adalah karya sastra yang ditulis dalam bentuk dialog dengan maksud di pertunjukkan oleh aktor. Pementasan naskah drama dikenal dengan istilah teater. Drama yang memiliki muatan sastra mulai ada pada 1926, yaitu dengan lahirnya karya Rustam Effendi yang berjudul Bebasari.
2. MEMENTASKAN DRAMA
Drama ditulis dengan maksud dipentaskan. Jadi, kurang lengkap jika naskah drama tidak dipentaskan. Kita dapat menikmati dan mengapresiasi cerita drama secara lengkap melalui pementasan. Pementasan drama harus melibatkan berbagai unsur pendukung. Unsur tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua bagian besar, yaitu:Unsur utama, yang terdiri atas sutradara, pemain, teknisi (pekerja panggung), dan penonton. Unsur pendukung, yang terdiri atas pentas dan komposisinya, kostum, tata rias, pencahayaan, tata suara, dan ilustrasi musik. Pada saat akan menganalisis pementasan drama kamu bukan hanya melihat unsur utama dan unsur ceritanya saja (tokoh, konflik, latar, penggarapan bahasa, tema, dan pesan), melainkan harus melihat unsur pendukung. Berikut ini adalah langkah-langkah pementasan drama.
  1. Menyusun naskah berdasarkan ide asli atau saduran dari kisah-kisah yang telah ada.
  2. Lakukan pembedahan secara bersama-sama terhadap isi naskah yang akan dimainkan. Tujuannya agar semua calon pemain memahami isi naskah yang akan dimainkan itu.
  3. Calon pemain membaca keseluruhan naskah sehingga dapat mengenal masing-masing peran.
  4. Melakukan pemilihan peran (Casting). Tujuannya agar peran yang akan dimainkan desuai dengan kemampuan akting pemain.
  5. Mendalami peran yang akan dimainkan. Pendalaman peran dilakukan dengan mengadakan pengamatan di lapangan. Misalnya, kalau peran kita sebagai seoarang tukang jamu, lakukanlah pengamatan terhadap kebiasaan dan cara kehidupan para tukang jamu. Demikian pula jika kita berperan sebagai seorang raja.
  6. Sutradara mengatur teknis pentas, yakni dengan cara mengarahkan dan mengatur pemain. Misalnya, dari mana seorang pemain itu harus muncul dan dari mana mereka berada ketika dialog dimainkan (Blocking) .
  7. Pemain menjalani latihan secara lengkap, mulai dari dialog sampai pengaturan pentas (Running).
  8. Gladi Resik atau latihan terakhir sebelum pentas. Semua bermain dari awal sampai akhir pementasan tanpa ada kesalahan lagi.
  9. Pementasan yang akan dilaksanakan harus dengan pemain dan dekor yang siap dan lengkap.











Tidak ada komentar:

Poskan Komentar