Pages

Minggu, 02 September 2012

Penerapan Pendekatan Eklektik dalam Mengelola Pembelajaran IPA SDN Beringin 02



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Guru merupakan tenaga profesional yang sangat besar pengaruhnya terhadap keberhasilan pembelajaran di sekolah. Guru sangat berperan dalam membantu perkembangan peserta didik secara optimal. Guru malaksanakan dua kegiatan pokok yaitu kegiatan mengajar dan kegiatan mengelola kelas. Kedua kegiatan tersebut seharusnya dilaksanakan secara professional supaya tujuan pembelajaran dapat tercapai.
Di kelaslah segala aspek pendidikan pengajaran bertemu dan berproses. Guru dengan segala kemampuannya, siswa dengan segala latar belakang dan sifat-sifat individualnya. Kurikulum dengan segala komponennya, dan materi serta sumber pelajaran dengan segala pokok bahasanya bertemu dan berpadu dan berinteraksi di kelas. Bahkan hasil dari pendidikan dan pengajaran sangat ditentukan oleh apa yang terjadi di kelas. Oleh sebab itu sudah selayaknyalah kelas dikelola dengan bagi, professional, dan harus terus-menerus.
Mengelola kelas dalam proses pemecahan masalah bukan terletak pada banyaknya macam kepemimpinan dan kontrol, tetapi terletak pada ketrampilan memberikan fasilitas yang berbeda-beda untuk setiap peserta didik. Pemecahan masalah merupakan proses penyelesaian yang beragam, ini tergantung pada sumber permasalahan.
Guru harus memiliki, memahami dan terampil dalam menggunakan macam-macam pendekatan dalam manajemen kelas, meskipun tidak semua pendekatan yang dipahami dan dimilikinya dipergunakan bersamaan atau sekailgus. Dalam hal ini , guru dituntut untuk terampil memilih atau bahkan memadukan pendekatan yang menyakinkan untuk menangani kasus manajemen kelas yang tepat dengan masalah yang dihadapi.
Pendekatan eklektik sangat berperan dalam pengelolaan pembelajaran IPA.  Sudah kita ketahui bersama bahwa pembelajaran ipa selalu identik dengan dimensi proses, produk, dan sikap yang semuanya itu langsung berhubungan dengan dunia nyata. Dalam mengelola pembelajaran yang seperti itu dibutuhkan perpaduan aspek-aspek terbaik pendekatan-pendekatan manajemen kelas yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi tertentu.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apakah yang dimaksud dengan pendekatan manajemen kelas ?
2.      Apakah peran pendekatan manajemen kelas dalam menyelesaikan masalah-masalah pembelajaran ?
3.      Apakah peran pendektan eklektik dalam mengelola pembelajaran IPA ?

C.    Tujuan
Dari pemaparan diatas yang menjadi tujuan penulisan makalah ini yaitu :
1.      Untuk mengetahui pengertian,manfaat dan macam-macam pendekatan manajemen kelas.
2.      Untuk mengetahui peran pendekatan manajemen kelas dalam menyelesaikan masalah-masalah pembelajaran.
3.      Untuk mengetahui peran pendekatan eklektik dalam mengelola pembelajaran IPA.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pendekatan Manajemen Kelas
Guru merupakan tenaga profesional sehingga guru tidak disamakan dengan seorang tukang. Seorang tukang cukup mengikuti petunjuk yang terdapat dalam buku petunjuk. Sementara seorang guru peranannya sebagai pengelola aktivitas yang harus bekerja berdasar pada kerangka acuan pendekatan manajemen kelas.
Mengelola kelas dalam proses pemecahan masalah bukan terletak pada banyaknya macam kepemimpinan dan kontrol, tetapi terletak pada ketrampilan memberikan fasilitas yang berbeda-beda untuk setiap peserta didik. Pemecahan masalah merupakan proses penyelesaian yang beragam, ini tergantung pada sumber permasalahan.
Pengelolaan kelas bukanlah masalah yang berdiri sendiri, tetapi terkait dengan berbagai faktor. Permasalahan anak didik adalah faktor utama yang dilakukan guru tidak lain adalah untuk meningkatkan kegairahan siswa baik secara berkelompok maupun secara individual. Keharmonisan hubungan guru dan anak didik, tingginya kerjasama diantara siswa tersimpul dalam bentuk interaksi. Lahirnya interaksi yang optimal bergantung dari pendekatan yang guru lakukan dalam rangka pengelolaan kelas.(Djamarah 2006:179)
Guru harus memiliki, memahami dan terampil dalam menggunakan macam-macam pendekatan dalam manajemen kelas, meskipun tidak semua pendekatan yang dipahami dan dimilikinya dipergunakan bersamaan atau sekailgus. Dalam hal ini , guru dituntut untuk terampil memilih atau bahkan memadukan pendekatan yang menyakinkan untuk menangani kasus manajemen kelas yang tepat dengan masalah yang dihadapi. Berikut ini akan diuraikan secara singkat macam-macam pendekatan :
a.       Pendekatan Otoriter
Pengelolaan kelas diartikan sebagai suatu proses untuk mengontrol tingkah laku anak didik. Peranan guru disini adalah menciptakan dan mempertahankan situasi disiplin dalam kelas. Kedisiplinan adalah kekuatan yang menuntut kepada anak didik untuk mentaatinya. Di dalamnya ada kekuasaan dan norma yang mengikat untuk ditaati anggota kelas. Melalui kekuasaan dalam bentuk norma guru diharapkan dapat menciptakan kondisi kelas yang diinginkan.

bPendekatan Intimidasi
Dari pendekatan ancaman atau intimidasi ini, pengelolaan kelas adalah juga sebagai suatu proses untuk mengontrol tingkah laku anak didik. Tetapi dalam mengontrol tingkah laku anak didik dilakukan dengan cara memberi ancaman, misalnya melarang, ejekan, sindiran, dan memaksa.
c. Pendekatan Permisif
Pengelolaan diartikan secara suatu proses untuk membantu anak didik agar merasa bebas untuk mengerjakan sesuatu kapan saja dan dimana saja. Peranan guru adalah mengusahakan semaksimal mungkin kebebasan anak didik.
d. Pendekatan Buku Masak
Pendekatan buku masak ini dilakukan dengan memberi satu daftar yang dapat menggambarkan apa yang harus dan apa yang tidak boleh dikerjakan oleh guru dalam mereaksi semua masalah atau situasi yang terjadi di kelas. Dalam daftar itu digambarkan tahap demi tahap apa yang harus dikerjakan oleh guru. Peranan guru hanyalah mengikuti petunjuk seperti yang tertulis dalam resep.
e. Pendekatan Pengajaran
Pendekatan ini didasarkan atas suatu anggapan bahwa dalam suatu perencanaan dan pelaksanaan akan mencegah munculnya masalah tingkah laku anak didik, dan memecahkan masalah yang tidak bisa dicegah. Pendekatan ini menganjurkan tingkah laku guru dalam mengajar untuk mencegah dan menghentikan tingkah laku anak didik yang kurang baik. Peranan guru adalah merencanakan dan mengimplementasikan pelajaran yang baik.
f. Pendekatan Perubahan Tingkah Laku
Sesuai dengan namanya, pengelolaan kelas diartikan sebagai suatu proses untuk mengubah tingkah laku anak didik. Peranan guru adalah mengembangkan tingkah laku anak didik yang baik, dan mencegah tingkah laku yang kurang baik. Pendekatan berdasarkan perubahan tingkah laku (behavior modification approach) ini bertolak dari sudut pandangan psikologi behavioral.
Program atau kegiatan yang yang mengakibatkan timbulnya tingkah laku yang kurang baik, harus diusahakan menghindarinya sebagai penguatan negatif yang pada suatu saat akan hilang dari tingkah laku siswa atau guru yang menjadi anggota kelasnya. Untuk itu, menurut pendekatan tingkah laku yang baik atau positif harus dirangsang dengan memberikan pujian atau hadiah yang menimbulkan perasaan senang atau puas. Sebaliknya, tingkah laku yang kurang baik dalam melaksanakan program kelas diberi sanksi atau hukuman yang akan menimbulkan perasaan tidak puas dan pada gilirannya tingkah laku tersebut akan dihindari.
g. Pendekatan Sosio-Emosional
Pendekatan sosio-emosional akan tercapai secarta maksimal apabila hubungan antar pribadi yang baik berkembang di dalam kelas. Hubungan tersebut meliputi hubungan antara guru dan siswa serta hubungan antar siswa. Didalam hal ini guru merupakan kunci pengembangan hubungan tersebut. Oleh karena itu seharusnya guru mengembangkan iklim kelas yang baik melalui pemeliharaan hubungan antar pribadi di kelas. Untuk terrciptanya hubungan guru dengan siswa yang positif, sikap mengerti dan sikap ngayomi atau sikap melindungi.
h. Pendekatan Kerja Kelompok
 Dalam pendekatan in, peran guru adalah mendorong perkembangan dan kerja sama kelompok. Pengelolaan kelas dengan proses kelompok memerlukan kemampuan guru untuk menciptakan kondisi-kondisi yang memungkinkan kelompok menjadi kelompok yang produktif, dan selain itu guru harus pula dapat menjaga kondisi itu agar tetap baik. Untuk menjaga kondisi kelas tersebut guru harus dapat mempertahankan semangat yang tinggi, mengatasi konflik, dan mengurangi masalah-masalah pengelolaan.
  
B.Peran Pendekatan dalam Menyelesaikan Masalah Manajemen Kelas
Pengelolaan kelas adalah suatu  usaha yang dilakukan oleh penanggung jawab kegiatan pembelajaran dengan maksud agar  tercapai kondisi optimal sehingga dapat terlaksana kegiatan belajar sebagaimana yang  diharapkan. Atau pengelolaan kelas adalah suatu keterampilan untuk bertindak dari seorang  guru berdasarkan atas sifat-sifat kelas dengan tujuan menciptakan situasi pembelajaran ke  arah yang lebih baik.
Definisi pengelolaan kelas yang dikemukakan berdasarkan atas pandangan "Pluralistik'  menganggap pengelolaan kelas adalah seperangkat kegiatan untuk mengembangkan  tingkah laku siswa yang diinginkan dan mengurangi atau meniadakan tingkah laku yang  tidak diinginkan, mengembangkan hubungan interpersonal dan iklim sosioemosional yang  positif serta mengembangkan dan mempertahankan organisasi kelas yang efektif dan  produktif.
Dalam kegiatan sehari-hari seorang guru akan menghadapi kasus-kasus dalam kelasnya.  Misalnya dalam hal pengaturan siswa, yang dapat dikelompokan menjadi dua masalah, yaitu  masalah individu/perorangan dan masalah kelompok. Agar dalam melaksanakan  pengelolaan kelas secara efektif dan tepat guna, maka guru harus rnengidentifikasikan  kedua masalah tersebut, tetapi tak kalah pentingnya dari kedua masalah tersebut adalah  masalah organisasi sekolah.
Kegiatan rutin yang secara organisasional dilakukan baik di tingkat kelas maupun pada tingkat sekolah akan dapat mencegah masalah pengelolaan kelas. Pengaruh organisasi  sekolah dipandang cukup menentukan dalam pengarahan perilaku siswa. Pengaturan atau  pengorganisasian kelas hendaknya sering diadakan perubahan. Hal ini untuk mencegah  kejenuhan bagi siswa-siswa selama mengikuti kegiatan belajar, selain itu juga hendaknya disesuaikan dengan bahan pengajaran yang diberikan.
Tindakan pengelolaan kelas seorang guru akan efektif apabila ia dapat mengidentifikasi  dengan tepat hakikat masalah yang sedang dihadapi, dan dapat memilih strategi  penanggulangannya dengan tepat pula. Adapun kasus-kasus yang dijumpai guru dalam pengelolaan kelas antara lain, seperti:
·       Tingkat penguasaan materi oleh siswa di dalam kelas.
Misalnya, materi yang diberikan kepada siswa terlalu tinggi atau sulit sehingga tidak  bisa diikuti oleh siswa, maka di sini diperlukan penyesuaian agar siswa dapat  mengikuti kegiatan belajar dengan baik. Apabila tidak diadakan penyesuaian, siswa- siswa tidak akan serius dan selalu menimbulkan kegaduhan.
·      Fasilitas yang diperlukan,
Misalnya, alat, media, bahan, tempat, biaya, dan lain-lain, akan memungkinkan  siswa belajar dengan baik
·    Kondisi siswa
Misalnya, siswa yang kelihatan sudah lesu dan tidak bergairah dalam menerima  peiajaran, hal ini dapat mempengaruhi situasi kelas.
·      Teknik mengajar guru
Misalnya, dalam memberikan pengajaran kurang menggairahkan suasana kelas dan  menjemukan.
Dalam kegiatan pembelajaran guru akan menemui masalah-masalah dalam pengelolaan kelas yang semuanya dapat diselesaikan dengan menggunakan pendekatan yang tepat.  Masalah pergelolaan kelas dapat di kelompokkan menjadi dua kategori yaitu masalah individual dan masalah kelompok.
a.         Masalah Individu/Perorangan
Rudolf Dreikurs dan Pearl Cassell (Noorhadi,1985:5), mengemukakan bahwa semua tingkah laku individual merupakan upaya pencapaian tujuan pemenuhan kebutuhan untuk diterima  kelompok dan kebutuhan untuk mencapai harga diri.
Akibat tidak terpenuhinya kebutuhan, akan mengakibatkan
·    Tingkah-Iaku yang ingin mendapatkan perhatian orang lain (attention getting behavior), misalnya membadut di dalam kelas (aktif), atau dengan berbuat serba  lamban sehingga perlu mendapat pertolongan ekstra (pasif).
·    Tingkah-Iaku yang ingin merujukan kekuatan (power seeking behaviours), misalnya  selalu mendebat atau kehilangan kendali emosional, seperti marah marah, menangis  atau selalu "Iupa" pada aturan penting di kelas (pasif).
·    Tingkah-Iaku yang bertujuan menyakiti orang lain (revenge seeking behaviors), misalnya menyakiti orang lain seperti mengata-ngatai, memukul, menggigit dan sebagainya (kelompok ini nampaknya kebanyakan dalam bentuk aktif atau pasif).
·    Peragaan ketidakmampuan (displaying indequacy) yaitu dalam bentuk sama sekali menolak untuk mencoba melakukan apapun karena yakin bahwa hanya  kegagalanlah yang menjadi bagiannya.
Sudah disebutkan di atas bahwa masalah timbul karena individu tidak dapat memenuhi kebutuhannya. Masalah individu sangat beragam dan berbeda pada setiap individu. Tidak terpenuhinya kebutuhan akan mengakibatkan perubahan perilaku kea rah yang tidak baik. Tingkah laku yang tidak baik juga dapat dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor dari dalam individu dan faktor lingkungan. Dalam hal ini penerapan pendekatan manajemen kelas akan dapat membantu menyelesaikan masalah – masalah tersebut di atas.
Pendekatan yang dirasa paling sesuai adalah pendekatan perubahan tingkah laku.
Inti dari pendekatan perubahan tingkah laku adalah adalah penggunaan peguatan. Siswa yang mempunyai tingkah laku yang kurang baik akan mendapatkan penguatan negatif berupa sanksi atau hukuman yang akan menimbulkan perasaan tidak puas dan pada gilirannya tingkah laku tersebut akan dihindari. Sedangkan siswa yang berperilaku baik akan mendapat penguatan positif berupa pujian dan hadiah yang akan menimbulkan perasaan senang dan puas.
b.      Masalah Kelompok
Masalah kelompok dapat diselesaikan dengan pendekatan kerja kelompok. Masalah ini merupakan yang harus diperhatikan dalam pengelolaan kelas. Masalah  kelompok akan muncul apabila tidak terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan kelompok, kelas  frustasi atau lemas dan akhirnya siswa menjadi anggota kelompok bersifat pasif, acuh, tidak  puas dan belajarnya terganggu. Apabila kebutuhan kelompok ini terpenuhi, anggotanya akan  aktif, puas, bergairah dan belajar dengan baik. Dibutuhkan peran aktif guru untuk  dapat mempertahankan semangat yang tinggi, mengatasi konflik, dan mengurangi masalah-masalah pengelolaan.

D.       Peran Pendektan Eklektik dalam Mengelola Pembelajaran IPA

Wilford A. Weber menyatakan bahwa pendekatan dengan cara menggabungkan semua aspek terbaik dari berbagai pendekatan manajemen kelas untuk menciptakan suatu kebulatan atau keseluruhan yang bermakna, yang secara filosofis, teoritis, dan / psikologis dinilai benar, yang bagi guru merupakan sumber pemilihan. Perilaku pengelolaan tertentu yang sesuai dengan situasi disebut pendekatan eklektik.
Dalam arti, tidak ada salah satu pendekatan yang cocok untuk semua masalah dan semua kondisi. Setiap pendekatan mempunyai tujuan dan wawasan tertentu. Dengan demikan, guru dituntut untuk memahami berbagai pendekatan. Dengan dikuasainya berbagai pendekatan, maka guru mempunyai banyak peluang untuk menggunakannya bahkan dapat memadukannya. Pendekatan Elektik disebut juga dengan Pendekatan Pluralistik, yaitu Manajemen Kelas yang berusaha menggunakan berbagai macam pendekatan yang memiliki potensi untuk dapat menciptakan dan mempertahankan suatu kondisi yang memungkinkan Proses Belajar Mengajar berjalan efektif dan efisien.
Dimana guru dapat memilih dan menggabungkan secara bebas pendekatan tersebut, sesuai dengan kemampuan dan selama maksud dari penggunaannya untuk menciptakan Proses Belajar Mengajar berjalan secara efektif dan efisien.
1.      Hal yang perlu dikuasai oleh seorang guru dalam menerapkan pendekatan eklektik yaitu:
Menguasai pendekatan manajemen kelas yang potensial, seperti pendekatan pengubahan perilaku, penciptaan iklim sosio – emosional, dan proses kelompok.
2.      Dapat memilih pendekatan yang tepat dan melaksanakan prosedur yang sesuai baik dalam masalah manajemen kelas.
Pembelajaran IPA pada jenjang pendidikan dasar dan dengan menggunakan pendekatan serta model apa pun harus benar-benar efektif. Dalam buku Kegiatan Belajar Mengajar yang Efektif (Depdiknas, 2003:5-6)) pembelajaran yang efektif secara umum diartikan sebagai Kegiatan Belajar Mengajar yang memberdayakan potensi siswa (peserta didik) serta mengacu pada pencapaian kompetensi individual masing-masing peserta didik. Ada baiknya jika guru yang akan merancang pembelajaran IPA di SD memperhatikan tujuh ciri utama pembelajaran efektif yang memberdayakan potensi siswa sebagaimana diuraikan pada buku tersebut (Depdiknas, 2003:7-11). Ketujuh ciri itu adalah:
1.      Berpijak pada prinsip konstruktivisme. Pembelajaran beranjak dari paradigma guru yang memandang bahwa belajar bukanlah proses siswa menyerap pengetahuan yang sudah jadi bentukan guru, melainkan sebagai proses siswa membangun makna/pemahaman terhadap informasi dan/atau pengalaman. Proses tersebut dapat dilakukan sendiri oleh siswa atau bersama orang lain.
2.      Berpusat pada siswa. Siswa memiliki perbedaan satu sama lain. Siswa berbeda dalam minat, kemampuan, kesenangan, pengalaman, dan cara belajar. Siswa tertentu lebih mudah belajar dengan dengar-baca, siswa lain lebih mudah dengan melihat (visual), atau dengan cara kinestetika (gerak). Oleh karena itu kegiatan pembelajaran, organisasi kelas, materi pembelajaran, waktu belajar, alat belajar, dan cara penilaian perlu beragam sesuai karakteristik siswa. Pembelajaran perlu menempatkan siswa sebagai subyek belajar. Artinya pembelajaran memperhatikan bakat, minat, kemampuan, cara dan strategi belajar, motivasi belajar, dan latar belakang sosial siswa. Pembelajaran perlu mendorong siswa untuk mengembangkan potensinya secara optimal.
3.      Belajar dengan mengalamipembelajaran perlu menyediakan pengalaman nyata dalam kehidupan sehari-hari dan atau dunia kerja yang terkait dengan penerapan konsep, kaidah dan prinsip ilmu yang dipelajari. Karena itu, semua siswa diharapkan memperoleh pengalaman langsung melalui pengalaman inderawi yang memungkinkan mereka memperolah informasi dari melihat, mendengar, meraba/menjamah, mencicipi, dan mencium. Dalam hal ini, beberapa topik tidak mungkin disediakan pengalaman nyata, guru dapat menggantikannya dengan model atau situasi buatan dalam wujud simulasi. Jika ini juga tidak mungkin, sebaiknya siswa dapat memperoleh pengalaman melalui alat audio-visual(dengar-pandang). Pilihan pengalaman belajar melalui kegiatan mendengar adalah pilihan terakhir.
4.      Mengembangkan keterampilan sosial, kognitif, dan emosionalSiswa akan lebih mudah membangun pemahaman apabila dapat mengkomunikasikan gagasannya kepada siswa lain atau guru. Dengan kata lain, membangun pemahaman akan lebih mudah melalui interaksi dengan lingkungan sosialnya. Interaksi memungkinkan terjadinya perbaikan terhadap pemahaman siswa melalui diskusi, saling bertanya, dan saling menjelaskan. Interaksi dapat ditingkatkan dengan belajar kelompok. Penyampaian gagasan oleh siswa dapat mempertajam, memperdalam, memantapkan, atau menyempurnakan gagasan itu karena memperoleh tanggapan dari siswa lain atau guru. Pembelajaran perlu mendorong siswa untuk mengkomunikasikan gagasan hasil kreasi dan temuannya kepada siswa lain, guru atau pihak-pihak lain. Dengan demikian, pembelajaran memungkinkan siswa bersosialisasi dengan menghargai perbedaan (pendapat, sikap, kemampuan, prestasi) dan berlatih untuk bekerjasama. Artinya, pembelajaran perlu mendorong siswa untuk mengembangkan empatinya sehingga dapat terjalin saling pengertian dengan menyelaraskan pengetahuan dan tindakannya.
5.      Mengembangkan keingintahuan, imajinasi, dan fitrah ber-TuhanSiswa dilahirkan dengan memiliki rasa ingin tahu, imajinasi, dan fitrah ber-Tuhan. Rasa ingin tahu dan imajinasi merupakan modal dasar untuk peka, kritis, mandiri, dan kreatif. Sementara, rasa fitrah ber-Tuhan merupakan embrio atau cikal bakal untuk bertaqwa kepada Tuhan. Pembelajaran perlu mempertimbangkan rasa ingin tahu, imajinasi, dan fitrah ber-Tuhan agar setiap sesi kegiatan pembelajaran menjadi wahana untuk memberdayakan ketiga jenis potensi ini.
6.      Belajar sepanjang hayatSiswa memerlukan kemampuan belajar sepanjang hayat untuk bisa bertahan (survive) dan berhasil (sukses) dalam menghadapi setiap masalah sambil menjalani proses kehidupan sehari-hari. Karena itu, siswa memerlukan fisik dan mental yang kokoh. Pembelajaran perlu mendorong siswa untuk dapat melihat dirinya secara positif, mengenali dirinya baik kelebihan maupun kekurangannya untuk kemudian dapat mensyukuri apa yang telah dianugerahkan Tuhan YME kepadanya. Demikian pula pembelajaran perlu membekali siswa dengan keterampilan belajar, yang meliputi pengembangan rasa percaya diri, keingintahuan, kemampuan memahami orang lain, kemampuan berkomunikasi dan bekerjasama supaya mendorong dirinya untuk senantiasa belajar, baik secara formal di sekolah maupun secara informal di luar kelas.
7.      Perpaduan kemandirian dan kerjasamaSiswa perlu berkompetisi, bekerjasama, dan mengembangkan solidaritasnya. Pembelajaran perlu memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan semangat berkompetisi sehat untuk memperoleh penghargaan, bekerjasama, dan solidaritas. Pembelajaran perlu menyediakan tugas-tugas yang memungkinkan siswa bekerja secara mandiri.
Pembelajaran IPA yang dirancang berdasarkan syarat-syarat pembelajaran efektif di atas, pada pelaksanaannya akan menunjukkan tingginya kemampuan pembelajaran tersebut dalam menyajikan karakteristik atau hakikat pendidikan IPA di SD. Sebagaimana telah disinggung di muka, karakteristik tersebut meliputi dimensi (ruang lingkup) proses ilmiah, produk ilmiah dan sikap ilmiah. Sekedar untuk menegaskan ulang; dimensi proses pendidikan IPA dengan ketat menuntut guru untuk melibatkan siswa secara aktif kedalam kegiatan-kegiatan dasar yang biasa dilakukan oleh para ilmuwan. Kegiatan dasar ini sering disebut sebagai metode ilmiah (Scienctific Method) dan keterampilan proses.
Dimensi produk pendidikan IPA berhubungan dengan sejumlah fakta, data, konsep, hukum, atau teori tentang fenomena alam semesta yang harus dikuasai siswa sebagaimana tertuang dalam kurikulum dan berbagai buku ajar pendidikan IPA. Produk IPA membekali siswa dengan seperangkat pengetahuan dan wawasan IPA, baik untuk kepentingan memahami peristiwa-peristiwa alam yang ditemukannya dalam kehidupan sehari-hari, maupun sebagai dasar akademis bagi siswa dalam melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Dimensi sikap merupakan hasil internalisasi dari akumulasi pengetahuan dan pengalaman siswa dalam mengikuti proses pembelajaran IPA. Dalam penjelasan sederhana, dimensi sikap IPA adalah cara pandang dan tindakan siswa terhadap sesuatu yang dilandasi oleh wawasan dan pengalaman yang diperolehnya dalam pendidikan IPA. Dimensi sikap ini sering disebut sebagai sikap ilmiah (Scientific Attitude).
Pembelajaran IPA yang efektif juga dicirikan oleh tingginya kadar on-task (aktivitas edukatif) dan rendahnya kadar off-task (aktivitas non-edukatif) siswa dalam pembelajaran. Menurut Horsley (1990:42) salah satu upaya untuk meningkatkan kadar on-task siswa adalah dengan mengembangkan kegiatan hands-on (psikomotor) dan minds-on (kognitif-afektif) melalui sejumlah keterampilan (skill) yang dilakukan siswa dalam kelas. Menurutnya ada empat jenis keterampilan: keterampilan laboratorium (laboratory skills), keterampilan intelektual (intellectual skills), keterampilan berpikir dasar (generic thinking skills) dan keterampilan berkomunikasi (communications skills). Keempat jenis keterampilan ini tidak lain merupakan pengelompokan dari keterampilan proses IPA yang sudah kita kenal.
Dalam menyelenggarakan pembelajaran IPA dengan pendekatan dan model apa pun guru harus tetap pro aktif sebagai fasilitator; mau memonitor seberapa besar kadar on-task siswa, seberapa banyak keterampilan dan sikap ilmiah siswa yang dapat dikembangkan, dan sejauh mana konsep-konsep IPA dikuasai dan diimplementasikan siswa. Jika semua itu tercapai secara optimal maka dapat dipastikan bahwa pembelajaran IPA yang diselenggarakan guru adalah pembelajaran IPA yang efektif. Salah satu sikap pro aktif guru adalah sejak awal berusaha memahami benar rambu-rambu pembelajaran IPA dalam kurikulum.
Sudah disinggung sebelumnya bahwa pendekatan eklektik adalah pendekatan yang memadukan aspek-aspek terbaik pada setiap pendekatan manajemen kelas.Pendekatan eklektik disesuaikan dengan masalah pada kondisi tertentu. Penggunakan berbagai macam pendekatan yang memiliki potensi untuk dapat menciptakan dan mempertahankan suatu kondisi yang memungkinkan Proses Belajar Mengajar berjalan efektif dan efisien.
Seperti yang sudah dipaparkan di atas menurut buku Kegiatan Belajar Mengajar yang Efektif (Depdiknas, 2003:5-6)) pembelajaran IPA SD yang efektif adalah yang mencakup tujuh  hal seperti yang sudah disebutkan sebelumnya. Untuk dapat mengelola pembelajaran IPA yang efektif dibutuhkan peran pendekatan eklektif yang merupakan penggabungan aspek-aspek terbaik pendekatan-pendekatan yang lain.
Pada observasi yang dilakukan penulis di SD Beringin 02 ada hal yang cukup menarik yang dapat diangkat menjadi sebuah makalah. Ibu Sri guru kelas V sedang mengajar IPA BAB Perubahan Sifat Benda menggunakan pendekatan eklektik dalam mengelola kelas dan tanpa menggunakan alat peraga. Tidak menggunakan alat peraga berarti tidak sesuai dengan ciri pembelajaran IPA yang efektif menurut depdiknas point 3 (belajar sambil mengalami).
Pendekatan otoriter dapat diterapkan pada pembelajaran IPA SD. Pada pembelajaran IPA yang tanpa menggunakan alat peraga siswa akan menjadi cepat bosan dan akhirnya mereka akan menjadi ramai sendiri. Guru mengajar dengan menggunakan aspek terbaik pada pendekatan otoriter. Ada sekelompok siswa yang duduk di pojok belakang kelas yang sedang ramai gurupun menegurnya dengan halus dan merekapun dapat kembali memperhatikan pelajaran. Pembelajaranpun akan menjadi lebih efektif.
Hampir setiap kelas pasti ada siswa ataupun sekelompok siswa yang suka membandel. Di kelas V SDN Beringin 02 ada sekelompok siswa perempuan yang duduk di belakang dan suka membuat gaduh. Sikap guru yang dengan hanya menegurnya ternyata masih dirasa belum cukup. Akhirnya guru mengambil tindakan dengan memberikan ancaman kepada siswa tersebut. Guru tersebut mengatakan kepada siswa tersebut kalau masih bertidak gaduh akan dilaporkan kepada orang tuanya.Siswa tersebut akhirnya merasa takut dan kembali mengikuti pelajaran. Pendekatan intimidasi juga perlu diterapkan karena dalam pembelajaran ipa kita mengenal dimensi sikap. Jadi pada intinya setelah mempelajari IPA siswa akan memiliki sikap baik dalam menanggapi lingkungan atau yang disebut juga dengan sikap ilmiah.
Sifat dasar siswa adalah ingin bebas dan tidak suka dikekang oleh pembelajaran. Guru  menggunakan pendekatan permisif untuk dapat meningkatkan kebebasan siswa pada tingkat yang wajar. Dengan merasa bebas siswa akan dapat membangun penetahuannya sendiri berdasarkan pembelajaran yang diberikan oleh guru dengan menggunakan metode ceramah maupun kerja kelompok. Penerapan kebebasan siswa akan membuat siswa menjadi lebih aktif. Pembelajaran yang berpusat pada siswa adalah ciri pembelajaran IPA yang efektif. Pembelajaran tersebut akan dapat mencapai sasaran dengan meningkatkan kebebasan siswa.
Sebagian besar siswa dalam kelas tersebut berperilaku baik. Tetapi ada sekelompok siswa yang suka membuat kegaduahn yang menyebabkan kondisi kelas kurang kondusif. Tingkah laku yang baik yang dimiliki oleh siswa akan lebih mudah mengefektifkan pembelajaran IPA dan sebaliknya tingkah laku yang kurang baik juga akan berdampak sebaliknya. Pendekatan perubahan tingkah laku menjadi solusi yang tepat untuk dapat menyelesaikan masalah tersebut. Prinsip utama pendekatan perubahan tingkah laku adalah pemberian penguatan baik positif maupun negatif. ). Dengan pendekatan perubahan tingkah laku ketiga dimensi pembelajaran IPA seperti dimensi proses ilmiah, produk ilmiah dan sikap ilmiah akan dapat dicapai dengan baik.
Siswa akan dapat meningkatkan pemahamannya dengan cara mengkomunikasikan gagasannya kepada orang lain. Pengkomunikasian gagasan dapat dituangkan melalui kegiatan saling bertanya dan saling menjelaskan. Dengan menggunakan pendekatan sosio-emosional yang diterapkan oleh guru, diharapkan siswa dapat menyampaikan gagasannya kepada kepada orang lain. Dengan adanya tanggapan dari siswa lain ataupun guru berarti telah terjadi proses sosialisasi yang merupakan ciri pembelajaran IPA.
Penerapan pendekatan kerja kelompok selalu berhubungan dengan pendekatan sosio-emosional. Kondisi sosial antar siswa maupun guru dengan siswa yang baik akan mempermudah penerapan pendekatan kerja kelompok secara maksimal.Dibutuhkan peran guru dalam menciptakan kondisi yang memungkinkan sehingga tujuan utama kerja kelompok dapat dicapai. Pembelajaran IPA menuntut siswa untuk dapat berkompetisi, bekerjasama, dan mengembangkan solidaritasnya. Dengan pendekatan kerja kelompok tujuan tersebut akan lebih mudah dicapai.
Penerapan pendekatan-pendekatan tersebut di atas tidak dapat direncanakan sebelumnya dalam rencana pembelajaran. Pendekatan-pendekatan tersebut hanya dapat diterapkan pada situasi dan kondisi tertentu. Dibututuhkan kemampuan guru untuk dapat menggunakan berbagai pendekatan dan menerapkan pembelajaran IPA yang efektif.

BAB III
PENUTUP

A.    Simpulan
Guru malaksanakan dua kegiatan pokok yaitu kegiatan mengajar dan kegiatan mengelola kelas. Dalam menjalankan kedua kegiatan tersebut guru akan menemui berbagai macam masalah. Untuk dapat melakukan tugasnya dengan baik sebagai pengelola aktivitas guru harus bekerja berdasar pada kerangka acuan pendekatan manajemen kelas. Kemampuan guru dalam memadukan berbagai pendekatan akan sangat mempengaruhi hasil pembelajaran.
Pendekatan eklektik adalah pendekatan yang memadukan aspek-aspek terbaik setiap pendekatan manajemen kelas. Mengelola pembelajaran IPA bukanlah hal yang mudah karena pembelajaran ini adalah perpaduan antara kemampuan proses, produk, dan sikap yang tidak terdapat pada pembelajaran lain. Pendekatan eklektik perlu diterapkan dalam pembelajaran IPA. Pembelajaran IPA yang efektif menurut Depdiknas ada tujuh point yang mana dalam pencapainnya dibutuhkan pendekatan eklektik.
B.     Saran
Penerapan pendekatan eklektik dalam pembelajaran IPA maupun pelajaran yang lain sudah sangat tepat. Sudah disebutkan sebelumnya bahwa guru pasti akan menemui banyak masalah dalam proses belajar mengajar. Guru harus mampu menggunakan suatu pendekatan pada situasi yang tepat. Dalam mengelola pembelajaran IPA yang efektif dibutuhkan peran aktif guru supaya tujuan yang diharapkan dapat tercapai.


DAFTAR PUSTAKA

Ekosiswoyo, Rasdi dan Rachman, Maman.2002.Manajemen Kelas.Semarang : IKIP Semarang Press
Depdiknas.2003.Kegiatan Belajar Mengajar yang Efektif.Jakarta:Dirjen Depdiknas
Purwanto Hadi.Geliat Pembelajaran IPA Efektif di SD.ApaKabarPSBG.htm diakses 20 Desember 2011
Krishannanto Deddy.  Pembelajaran IPA yang Efektif.  Pinggiralas.htm diakses 20 Desember 2011
Tauda. Pendekatan dalam Pengelolaan Kelas . Guruku.htm diakses 19 Desember 2011
Joko.PENDEKATAN DALAM MANAJEMEN KELAS .Merah Putih Pendidikan.htm diakses 19 Desember 2011

ABSTRAK
Guru merupakan tenaga profesional yang sangat besar pengaruhnya terhadap keberhasilan pembelajaran di sekolah. Guru sangat berperan dalam membantu perkembangan peserta didik secara optimal. Guru malaksanakan dua kegiatan pokok yaitu kegiatan mengajar dan kegiatan mengelola kelas. Kedua kegiatan tersebut seharusnya dilaksanakan secara professional supaya tujuan pembelajaran dapat tercapai. Dalam kegiatan sehari-hari seorang guru akan menghadapi kasus-kasus dalam kelasnya.  Misalnya dalam hal pengaturan siswa, yang dapat dikelompokan menjadi dua masalah, yaitu  masalah individu/perorangan dan masalah kelompok. Agar dalam melaksanakan  pengelolaan kelas secara efektif dan tepat guna, maka guru harus rnengidentifikasikan  kedua masalah tersebut, tetapi tak kalah pentingnya dari kedua masalah tersebut adalah  masalah organisasi sekolah.
Dibutuhkan pendekatan –pendekatan yang tepat untuk menyelesaikan masalah- masalah manajemen kelas. Tidak semua pendekatan yang cocok untuk semua masalah dan semua kondisi. Setiap pendekatan mempunyai tujuan dan wawasan tertentu. Dengan demikan, guru dituntut untuk memahami berbagai pendekatan. Dengan dikuasainya berbagai pendekatan, maka guru mempunyai banyak peluang untuk menggunakannya bahkan dapat memadukannya. Pendekatan Elektik disebut juga dengan Pendekatan Pluralistik, yaitu Manajemen Kelas yang berusaha menggunakan berbagai macam pendekatan yang memiliki potensi untuk dapat menciptakan dan mempertahankan suatu kondisi yang memungkinkan Proses Belajar Mengajar berjalan efektif dan efisien.
Pembelajaran IPA pada jenjang pendidikan dasar dan dengan menggunakan pendekatan serta model apa pun harus benar-benar efektif. Dalam buku Kegiatan Belajar Mengajar yang Efektif (Depdiknas, 2003:5-6)) pembelajaran yang efektif secara umum diartikan sebagai Kegiatan Belajar Mengajar yang memberdayakan potensi siswa (peserta didik) serta mengacu pada pencapaian kompetensi individual masing-masing peserta didik. Ada baiknya jika guru yang akan merancang pembelajaran IPA di SD memperhatikan tujuh ciri utama pembelajaran efektif yang memberdayakan potensi siswa sebagaimana diuraikan pada buku tersebut (Depdiknas, 2003:7-11).
Penerapan pendekatan-pendekatan tersebut di atas tidak dapat direncanakan sebelumnya dalam rencana pembelajaran. Pendekatan-pendekatan tersebut hanya dapat diterapkan pada situasi dan kondisi tertentu. Dibututuhkan kemampuan guru untuk dapat menggunakan berbagai pendekatan dan menerapkan pembelajaran IPA yang efektif.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar