Pages

Minggu, 02 September 2012

Achievement Grouping Dalam Manajemen Kelas


PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pendidikan adalah suatu usaha atau kegiatan yang dijalankan dengan sengaja, teratur dan berencana dengan maksud mengubah atau mengembangkan perilaku yang diinginkan. Sekolah sebagai lembaga formal merupakan sarana dalam rangka pencapaian tujuan pendidikan tersebut. Melalui sekolah, peserta didik dapat belajar pengetahuan dan keterampilan hidup untuk bekal masa depannya. Belajar akan menghasilkan perubahan-perubahan dalam diri seseorang. Untuk mengetahui sampai seberapa jauh perubahan yang terjadi, perlu adanya penilaian. Begitu juga dengan yang terjadi pada seorang siswa yang mengikuti suatu pendidikan selalu diadakan penilaian dari hasil belajarnya. Penilaian terhadap hasil belajar seorang peserta didik untuk mengetahui sejauh mana telah mencapai sasaran belajar inilah yang disebut sebagai prestasi belajar. Tentunya prestasi belajar setiap peserta didik tidaklah sama karena setiap peserta didik memiliki latar belakang yang berbeda baik dari segi kecerdasan, psikologis, maupun biologis.
Perbedaan antar peserta didik ini mengharuskan layanan pendidikan yang berbeda terhadap mereka. Oleh itu karena layanan yang berbeda secara individual demikian dianggap kurang efisien, maka dilakukan pengelompokan berdasarkan persamaan dan perbedaan peserta didik, agar kekurangan pada pengajaran secara klasikal dapat dikurangi.
Banyak guru yang mengelompokkan peserta didiknya berdasarkan prestasi belajarnya di kelas. Pengelompokan demikian ia namai dengan achievement grouping. Dengan adanya pengelompokan demikian, maka peserta didik yang berprestasi tinggi dikelompokkan dengan peserta didik yang berprestasi tinggi, sementara yang berprestasi rendah, dikelompokkan ke dalam yang berprestasi rendah.
Alasan pengelompokan peserta didik juga didasarkan atas realitas bahwa peserta didik secara terus-menerus bertumbuh dan berkembang. Pertumbuhan dan perkembangan peserta didik satu dengan yang lain berbeda. Agar perkembangan peserta didik yang cepat tidak mengganggu peserta didik yang lambat dan sebaliknya (peserta didik yang lambat tidak mengganggu yang cepat), maka dilakukanlah pengelompokan peserta didik . Tidak jarang dalam pengajaran yang menggunakan sistem klasikal, peserta didik yang lambat, tidak akan dapat mengejar peserta didik yang cepat. Dengan melakukan sistem pengelompokan seperti itu yang lebih dikenal dengan Achievement Grouping, banayak guru yang menganggap lebih mudah memberikan pelayanan kepada siswa guna mencapai tujuan pembelajaran secara maksimal.
Dari permasalahan tersebut maka perlu bagi guru mengetahui relevan atau tidak menggunakan sistem achievement grouping atau pengelompokan berdasarkan prestasi belajarnya dalam mengelola kelas demi mencapai tujuan pembelajaran secara maksimal.
B. Rumasan Masalah
1. Apa manfaat achievement grouping dalam mengelola kelas?
2. Adakah dampak yang timbul dari achievement grouping dalam mengelola kelas?
3. Apakah relevan mengguanakan achievement grouping dalam mengelola kelas sebagai upaya untuk memudahkan guru memberikan pelayanan kepada siswa?
C. Tujuan
Dari pemaparan di atas maka yang menjadi tujuan penulisan makalah ini yaitu:
1.Untuk mengetahui manfaat dari acvievement grouping.
2.Untuk mengetahui dampak yang timbul dari achievement grouping.
3.Untuk mengetahui tentang penerapan achievement grouping sebagai salah satu upaya untuk memudahkan guru dalam memaksimalkan tujuan pembelajaran.

PEMBAHASAN

A.                Pengertian Achievement Groping
Pengelompokan atau grouping adalah pengelompokan peserta didik berdasarkan karakteristik-karakteristiknya. Karakteristik demikian perlu digolongkan, agar mereka berada dalam kondisi yang sama. Adanya kondisi yang sama ini bisa memudahkan pemberian layanan yang sama.
Hendyat Soetopo (1982) mengemukakan bahwa Achievement Grouping adalah suatu sistem pengelompokan yang berdasarkan prestasi belajar dari peserta didik. Dengan adanya pengelompokan demikian, maka peserta didik yang berprestasi tinggi dikelompokkan dengan peserta didik yang berprestasi tinggi, sementara yang berprestasi rendah, dikelompokkan ke dalam yang berprestasi rendah. Ada tiga macam pengelompokan yang didasarkan atas achievement grouping ini, yaitu: kelompok untuk peserta didik yang cepat berpikir, kelompok untuk peserta didik yang sedang dan kelompok untuk peserta didik yang lambat belajar.
Menurut Regan (1996) Achievement Grouping adalah pengelompokan berdasarkan kemampuan peserta didik. Peserta didik yang mempunyai tingkat kemampuan yang sama ditempatkan pada kelompok yang sama. Peserta didik yang sama-sama tinggi kemampuannya ditempatkan pada kelompok yang kemampuannya tinggi, sementara peserta didik yang kemampuannya rendah ditempatkan dalam kelompok peserta didik yang berkemampuan rendah.
Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa Achievement Grouping adalah suatu sistem pengelompokan dalam mengelola kelas yang berdasarkan prestasi belajar/kemampuan dari peserta didik. Sehingga dalam suatu kelas, peserta didik dikelompokkan menjadi kelompok yang memiliki kemampuan tinggi dan juga kelompok yang memiliki kemampuan rendah. Pengelompokkan ini bersdasarkan prestasi belajar yang telah dicapai peserta didik.


B.                 Manfaat Penerapan Achievement Grouping Dalam Manajemen Kelas
Pengaturan kelas ditekankan pada terciptanya suasana yang kooperatif bukannya kompetitif, harapannya siswa-siswa yang lemah secara akademik dapat memberikan konstribusi yang berarti terhadap kesuksesan kelompok kooperatif.  Guru besar perananya dalam menciptakan  suasana yang kondusif.
Kelebeihan dari penerapan sistem Achievement Grouping diantaranya adalah:
1.      Guru dapat lebih mudah dalam memberikan pelayanan dan perhatian.
Dengan menggunakan sistem Achievement Grouping dalam mengelola kelas, guru dapat lebih mudah memberikan pelayanan dan perhatian kepada peserta didik sehingga guru dapat memaksimalkan tujuan pembelajaran.
2.      Menciptakan kondisi ideal dan kondusif.
Secara obyektif sistem Achievement Grouping akan memberikan kondisi pada suasana belajar yang ideal dan kondusif untuk mencapai tujuan pembelajaran secara maksimal. Guru dengan mudah menyampaikan materi, selanjutnya siswa akan menanggapi dalam proses belajar dengan lebih mudah. Pada akhirnya prestasi akademik siswa akan mudah termonitor dan mudah pula melakukan perlakukan-perlakuan khusus dalam rangka perbaikan atau pengayaan. Baik siswa yang terkelompok sebagai siswa berpotensial tinggi (pintar) ataupun siswa yang terkelompok sebagai siswa berpotensial rendah (kurang pandai), akan dengan mudah termonitor oleh guru. Perlakuan guru dalam proses pembelajaran di dua kelompok tersebut akan meningkatkan prestasi siswa.
3.      Peserta didik yang berkemampuan tinggi tidak merasa terhambat perkembangannya.
Peserta didik yang mempunyai kemampuan lebih tinggi, tidak merasa terhambat perkembangannya oleh peserta didik yang berkemampuan rendah. Terkadang dari dalam diri peserta didik muncul rasa kesal apabila proses belajarnya terhambat oleh peserta didik yang berkemampuan lebih rendah darinya.
4.      Peserta didik yang berkemampuan rendah tidak merasa tertinggal jauh dengan anggota kelompoknya
Peserta didik yang berkemampuan rendah tidak merasa tertinggal jauh dengan anggota kelompoknya. Suatu rasa nyaman apabila peserta didik yang berkemampuan rendah memiliki teman/kelompok, dimana teman/kelompok juga memiliki kemampuan yang sama rendahnya.

C.                 Dampak  Achievement Grouping
Guru harus membuat persiapan yang berbeda-beda, ada rancangan pembelajaran yang dikhususkan untuk peserta didik berkemampuan rendah, dan ada yang dikhususkan untuk peserta didik yang berkemempuan tinggi. Tentunya hal ini akan lebih memakan waktu untuk guru dalam membuat rancangan pembelajaran. Dan pada kenyataanya tidak semua guru membuat rancangan pembelajaran yang dikhususkan untuk kelompok berkemampuan tinggi maupun kelompok yang berkemampuan rendah. Jadi Cuma ada satu rancangan pembelajaran dan pada penerapannya guru lebih berkonsentrasi pada satu kelompok.
Peserta didik yang masuk ke dalam kelompok superior merasa dirinya lebih dan sombong serta suka membanggakan diri. Hal ini dapat terjadi jika kelompok yang memiliki kemampuan tinggi tidak ditanamkan budipekerti yang baik. Hal ini juga dapat memicu perselisihan antara kelompok tinggi dan kelompok rendah.
Interaksi antara peserta didik yang ada di kelompok kemampuan tinggi dengan peserta didik yang ada di kelompok rendah juga dapat terganggu. Hal ini dikarenakan peserta didik memilih-milih teman. Anak pandai akan lebih banyak bergaul dengan anak pandai dan anak kurang pandai akan bergaul dengan anak yang kurang pandai. Guru pun seolah memberikan label bahwa si A anak pandai karena nilai-nilainya bagus sedangkan si B anak bodoh karena niai-nilainya jelek.
Peserta didik kurang pandai merasa tersisih dan kurang percaya diri. Cap bahwa ia ‘bodoh’ seolah sudah melekat pada dirinya yang menjadikan ia tampak canggung dan merasa serba salah.(Teori Labeling,Lemert). Hal ini kadang diperparah dengan sikap guru yang kadang melontarkan perkatan-perkataan tidak pada tempatnya, seperti: “Coba seperti si A itu, ia selalu dapat nilai di atas 9”, “Contohlah si A ia selalu rajin belajar” ataupun “Jangan seperti si B sudah bodoh, malas lagi”. Hal ini tentunya dapat menggangu kondisi psikologi peserta didik.
Dengan adanya pengelompokan peserta didik berdasarkan prestasi, peserta didik yang termasuk dalam kelompok berkemampuan rendah pasti akan merasa kecewa pada dirinya sendiri sehingga hal ini akan memicu rasa frustasi dalam diri peserta didik tersebut.
Peserta didik yang pandai memerlukan layanan pembelajaran yang berbeda dengan peserta didik yang kurang pandai. Anggapan ini didasarkan bahwa siswa yang pandai cenderung lebih cepat menerima pelajaran dan lebih mudah menerima pelajaran dibandingkan dengan siswa yang kurang pandai. Jika kedua kelompok yang berbeda tingkat penguasaannya ini dijadikan satu, maka akan terjadi ketimpangan dalam penerimaan pelajaran. Bentuk ketimpangan itu adalah siswa yang cepat menguasai pelajaran harus menunggu pada siswa yang kurang cepat menguasai pelajaran sampai siswa tersebut menguasai pelajaran. Demikian juga gurunya, guru tidak bisa menerapkan satu cara dalam satu kelas yang sama. Akibatnya, baik siswa maupun guru sama-sama mengalami kesulitan.
Pelaksanaan Achievement Grouping telah menempatkan siswa pada suatu anggapan bahwa anak pandai harus bergabung dengan anak pandai dan anak kurang pandai harus bergabung dengan anak kurang pandai. Padahal kecerdasan akademik hanya merupakan sebagian kecil faktor penentu keberhasilan hidup seeorang. Banyak orang sukses yang ketika sekolah prestasi akademiknya biasa-biasa saja atau bahkan kurang. Sebaliknya, banyak juga orang yang gagal dalam karier padahal sewaktu sekoah ia termasuk siswa ‘superior’ dalam prestasi akademik.
Kebijakan dan praktek pengelompokan anak berdasarkan kemampuan akademis (achievement grouping) baik di dalam kelas, sekolah, maupun antar sekolah merupakan salah satu topik penelitian dan perbincangan yang kontroversial di kalangan para pendidik. Para pendidik yang mendukung praktek ini menyebutkan kemudahan bagi para pengajar untuk mefokuskan pengajaran pada satu tingkatan kemampuan siswa dan menyesuaikan kecepatan pengajaran dengan kebutuhan kelompok yang homogen. Selain itu, anak-anak “pandai” seharusnya diberikan tantangan lebih dan kesempatan untuk maju lebih cepat dari teman-temannya yang kurang pandai.
Mengajar di kelas yang berisi anak-anak dengan tingkat dan jenis kemampuan yang berbeda memang tidak mudah bagi guru. Metode pengajaran satu arah (ceramah, misalnya) tidak akan efektif. Menurut Renata Nummela Caine dan Geoffrey Caine mengatakan “keyakinan guru akan potensi manusia dan kemampuan semua peserta didik untuk belajar dan berprestasi merupakan suatu hal yang penting diperhatikan. Aspek-aspek teladan mental guru berdampak besar terhadap iklim belajar dan pemikiran peserta didik yang diciptakan guru. Guru harus memahami bahwa perasaan dan sikap peserta didik akan terlibat dan berpengaruh pada proses belajarnya”. Dan  inilah tantangan bagi guru untuk yakin bahwa peserta didiknya mampu untuk berprestasi dan juga sebagai proses pengembangan profesionalisme guru untuk meningkatkan pendekatan dan metodologi pengajaran. Pada sisi yang lain, tantangan lebih yang diberikan kepada anak-anak “pandai” seharusnya tidak hanya berupa materi lebih sulit yang akan memacu perkembangan kognisi mereka semata. Anak-anak yang dimasukkan dalam kategori “pandai” seharusnya juga diberi kesempatan untuk mengembangkan afeksi, kesabaran, dan kedewasaan emosional untuk bisa belajar bersama dengan anak-anak dengan kapasitas dan kecepatan belajar yang berbeda.
Banyak penelitian justru mengkritisi praktek pembagian siswa berdasarkan kemampuan akademis dengan beberapa alasan. Pertama, kriteria yang biasanya digunakan untuk membagi siswa seringkali merupakan persepsi subyektif dan pemahaman yang sempit mengenai konsep kecerdasan anak.  Kedua, pengelompokan akan menimbulkan pelabelan anak (pintar, bodoh, cepat, lamban) dan kerancuan antara konsep kecepatan belajar dengan kapasitas belajar.  Ketiga, penempatan anak pada kelompok atau jalur yang berbeda akan mengarah pada harapan, target, dan ekspektasi yang berbeda pula terhadap anak padahal ada penelitian yang mendukung bahwa motivasi dan hasil belajar anak terkait secara positif dengan ekspektasi guru dan mitra belajarnya.  Sekali anak dimasukkan dalam satu kelompok tertentu, kemungkinan sangat besar anak tersebut akan tetap tinggal di kelompok itu sampai akhir masa sekolahnya.  Vonis mengenai kemampuan anak pada masa pendidikan sama dengan ramalan yang akan menjadi kenyataan.  Bahkan selepas dari masa sekolah, label ini akan terus melekat dalam diri anak.  Di Harvard Educational Review (1996), Welner dan Oakes.mendesak agar pengadilan turun tangan dan melarang pengelompokan siswa berdasarkan kemampuan akademis.
Gardner mengatakan bahwa kita cenderung hanya menghargai orang-orang yang memang ahli di dalam kemampuan logis-matematis dan bahasa. Apresiasi sekolah diberikan kepada mereka yang memiliki kombinasi kemampuan itu dengan memberi label: murid pandai, bintang pelajar, juara kelas dan ranking tinggi pada setiap pembagian buku raport. Sementara untuk orang-orang yang memiliki talenta di dalam kecerdasan yang lainnya seperti artis, arsitek, musikus, ahli alam, designer, penari, terapis, entrepreneurs, dan lain-lain kurang mendapat perhatian. Jarang sekali sekolah yang memberikan penghargaan pada siswa yang memiliki kemampuan misalnya olah raga, kepemimpinan, pelukis dan lain-lain. Saat ini banyak anak-anak yang memiliki talenta, tidak mendapatkan reinforcement di sekolahnya. Banyak sekali anak yang pada kenyataannya dianggap sebagai anak yang “Learning Disabled” atau ADD (Attention Deficit Disorder), atau Underachiever, pada saat pola pemikiran mereka yang unik tidak dapat diakomodasi oleh sekolah. Pihak sekolah hanya menekankan pada kemampuan logis-matematis dan bahasa.

PENUTUP
A.                Simpulan
 Sistem Achievement Grouping dari sisi proses belajar mengajar adalah baik dan kondusif dalam rangka mencapai tujuan belajar. Peserta didik terpacu dan tertantang untuk lebih maju lagi. Target pencapaian nilai akan lebih mudah tercapai. Peserta didik menemukan pola pebelajara yang sesai dengan tingkat kemampuannya.Guru dapat menerpakan metode yang tepat untuk kelas.
Dalam kerangka tujuan pendidikan ideal, yaitu pengembangan aspek pengetahuan, sikap dan perilaku motorik (sosial) harus diperhatikan. Kondisi peserta didik yang homogen khususnya kelompok berkemampuan tinggi , apabila memang dibentuk/ diprogramkan maka perlu adanya bimbingan khusus bagi siswa yang mengalami persoalan dengan masalah sosialnya.
Sistem Achievement Grouping dapat memicu kerawanan sosial di sekolah jika tidak diantisipasi dengan baik, yang melibatkan seuruh koponen sekolah. Jika tidak diantisipasi  akan menimbulkan sikap-sikap amoral dan terjadinya kegagalan social. Karena sistem ini akan sangat mempengaruhi kondisi psikologi peserta didik.
Penerapan sistem Achievement Grouping harus bisa mengubah paradigm peserta didik, bahwa siswa itu mempunyai kecerdasan majemuk, tidak hanya terbatas pada kecerdasan bidang akademik saja. Selain itu juga harus merubah paradigma guru, yang tak hanya memikirkan kecerdasan peserta didik dalam suatu bidang saja tetapi di bidang lain.
Keyakinan guru akan potensi peserta didik, juga akan mempengaruhi cara guru mengajar peserta didik. Guru seharusnya yakin bahwa setiap peserta didiknya dapat mencapai prestasi belajar yang tinggi. Dan sebagai guru harus menunjukkan profesionalisme dalam mengajar walaupun sulit, karena memang itulah tantangan untuk guru.

B.                 Saran
Guru atau calon pengajar kiranya perlu mengetahui tentang penggunan sistem Achievement Grouping dalam Manajemen Kelas/pengelolan kelas. Memberlakukan sistem Achievement Grouping sebagai langkah pengelolan kelas dengan tujuan pencapaian pembelajaran secara maksimal memang sangat membantu. Tapi perlu diperhatikan tentang dampak psikologi peserta didik. Karena peserta didik tingkat SD belum dapat berpikir secara dewasa dan guru yang menjadi teladan bagi peserta didiknya.

Daftar Pustaka

1.      Dr. H. Mahmud, M.Si. 2010. Psikologi Pendidikan. Pustaka Setia. Bandung.
2.      Abu Ahmadi, Drs.1991. Psikologi Belajar. Rineka Cipta. Jakarta.
3.      Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1982. Buku II: Modul Pengelolaan Kelas. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Proyek Pengembangan Institusi Pendidikan Tinggi.
4.      Catur Atik Budiati. 2009. Sosiologi Kontekstual untuk SMA dan Ma X. Pusat Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta.
6.      http://psb-psma.org/pemisahansiswapintardengansiswabodohsaatpembelajarandikelas


Abstrak
Pengaturan kelas ditekankan pada terciptanya suasana yang kooperatif bukannya kompetitif, harapannya peserta didik yang lemah secara akademik dapat memberikan konstribusi yang berarti terhadap kesuksesan kelompok kooperatif.  Guru besar perananya dalam menciptakan  suasana yang kondusif.
Achievement Grouping adalah suatu sistem pengelompokan dalam mengelola kelas yang berdasarkan prestasi belajar/kemampuan dari peserta didik. Sehingga dalam suatu kelas, peserta didik dikelompokkan menjadi kelompok yang memiliki kemampuan tinggi dan juga kelompok yang memiliki kemampuan rendah. Pengelompokkan ini bersdasarkan prestasi belajar yang telah dicapai peserta didik.
Walaupun memang sistem Achievement Grouping bertujuan untuk membuat kondisi suasana belajar yang ideal dan kondusif tapi akan muncul dampak psikologi bagi peserta didik. Dan hal ini perlu diantisipasi agar tidak terjadi kondisi dimana terdapat kesenjangan social,kecemburuan social, dan ketidakrukunan diantara peserta didik.
Mengajar di kelas yang berisi anak-anak dengan tingkat dan jenis kemampuan yang berbeda memang tidak mudah bagi guru. Metode pengajaran satu arah (ceramah, misalnya) tidak akan efektif. Dan  inilah tantangan bagi guru untuk yakin bahwa peserta didiknya mampu untuk berprestasi dan juga sebagai proses pengembangan profesionalisme guru untuk meningkatkan pendekatan dan metodologi pengajaran.

1 komentar:

  1. Harrah's Cherokee Casino Resort - MapYRO
    Get directions, reviews and 전주 출장마사지 information for Harrah's 제주도 출장안마 Cherokee 포항 출장샵 Casino 창원 출장마사지 Resort in Cherokee, NC. Hotel Review. Rating: 2 · ‎1 vote · 김해 출장샵 ‎Price range: $

    BalasHapus